saya tolak dengan halus. Bokeb saya sangat menikmati wajah-wajah terkejut & takjub di sekelilingku, lima pasang mata semua tertuju ke arahku, tak terhalangi meja sebab tinggi meja tengah itu hanya selutut. lemas saya disaat melihatnya lagi sekarang, yang jelas ia jauh dari apa yang kubayangkan, sangat mengecewakan, tsk, tsk, tsk! saya menjerit. Biarlah, mereka & saya memang susah menyambung lagi. Kami memanggilnya Duren. Lalu sambil mengikat rambutku ke belakang membuat buntut kuda, perlahan-lahan saya membuka kedua pahaku & menutupnya kembali; saya bikin scene seperti Sharon Stone di Basic Instinct di mana ia memamerkan bulu kemaluannya saat diinterogasi polisi-polisi.Hmm.. Personal status pada waktu itu; sudah punya pacar, seorang pria bernama Venis (not with the P, but V) kepada siapa saya telah mempersembahkan milikku yang paling berharga, namun kini rasanya saya inginkan hubungan ini berakhir.Yang namanya spiritual, emotional, intellectual connection itu tak terasa di antara kami, mungkin yang eksis cuma intellectual. Semua perokok, kecuali Duren, & mereka dengan seenaknya meniupkan asapnya kemana saja dengan cuek bebek. saya duduk bertengger di salah satu jendela itu. Besok Riko, cowok yang ganteng itu akan datang menemuiku di hotel ini.















