Tanganku berjalan-jalan ke atas, merayap pinggangnya lalu menyingkap kaos tipis yang Sava kenakan.“Apa aku perlu menjawabnya ?” mata Sava terbuka sedikit, masih dengan senyum yang melengkung, tangannya bergerak, melingkarkan leherku. Bokep Terjadi kebisuan diantara dentingan jam dinding yang berdetak. Beberapa bagian tubuh kami terkena air hujan walaupun gak seluruhnya.“Romantis ya, hehehehe,” nada riang Sava yang khas seakan mengalahkan gemericik air hujan, walau diiringi dengan kletukan giginya yang beradu dengan cepat.“Kamu suka ?” hhhmmm aroma wangi rambutnya semakin lekat menempel dipenciumanku, rambut yang sedikit lepek terkena air hujan.Dengan mantap Sava mengangguk, menutup matanya sambil menampakan senyum berpipi lesungnya itu. Sava sedikit tertawa merasakan geli yang dihasilkan lidahku.Tak lama tanganku menurunkan celana ketat lengkap dengan dalemannya. Aku jilati lagi area pinggiran vaginanya, jariku mentowel-towel klitoris yang memerah dan kencang.“SSSshhhhhhhh,” rasa hangat menjalar di sekujur batang penisku, kedua kakiku rasanya merinding. “SAVANAAAAAAA !”“Hyaaaaaaaaa,” seluruh penonton bersorak, Sava menuntup kedua matanya, dia tersenyum sekaligus menangis. Aku tetap mengenang segala bentuk keindahanmu, karna kamu gak pernah ada tuh di otakku, tapi kamu selalu ada disini, “dia menuntun tanganku menyentuh dadanya, “di hati yang gak pernah menyusut walau termakan sang waktu.”Sementara langit menghujan, kami selalu berbagi senyum yang pastinya akan selalu aku kenang.















