Tawaran yang naif, sebab jawabannya begitu jelas. Kutarik kepala Sari begitu ia membungkuk akan merapikan celanaku. Bokep Thailand Saya takut dimarahin Mama”, Aku diam saja, jengkel. “Iyyaa.., sini..”, kuraih tangannya menuju ke penisku. Tapi, masa kutembak di mobil? Sekarang tonjolan putingnya lebih jelas, karena mengeras. Makan “jagung”-mu.Kuperiksa keadaan sekeliling mobil. Kira-kira 100 m sebelum hotel GE, kembali aku membujuk Sari untuk mampir. Aku jadi ragu. Tentu ini ada “ongkosnya”, yaitu aku tak pernah minta uang kembalian.Agar bisa bebas menjamah, aku pilih waktu yang tepat jika ingin membeli sesuatu. Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. “Bu Maya cuma mau nebeng sampai halte”, kata Sari seolah mengetahui kekhawatiranku. Diapun mengulum sambil was-was. Aku melayang. Tak ada penolakan. Aku memperlambat jalan mobilku, menikmati kulumannya sambil mata tetap mengawasi kendaraan lain. Saatnya segera tiba. Mendingan minum susu Sari aja..”. Tangan Sari kuraih kuletakkan di selangkanganku, lalu tanganku kembali ke susu segarnya. “Tenang aja Mas.., rahasia dijamin, ya Sari”, kata Bu Maya sambil mengedip penuh arti.Setelah menurunkan Bu Maya di halte, aku langsung mengarah ke Setia Budi.















