Bayang Ireng berubah meliputi sekujur tubuhnya seperti baju, baju yang bisa mencabulinya. Perlawanannya baru berakhir ketika…..si laki-laki menciumnya, menggeluti bibir si perempuan dengan bibirnya. Bokeb Payudara indah Sekar pun terlihat di bawah cahaya pelita. Lalu berbagai cabang bayangan lain ikut bermain. Si perempuan meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tapi jurus pitingan si laki-laki tak dapat dia kalahkan. Dalam hati mereka memohon supaya si pendekar putri tak bernasib seperti orang-orang lain yang mencoba melawan kekuatan jahat sakti itu. “Den Sekar, mohon ampun, sebenarnya ini karena kami tidak melakukan tugas kami sebagai kepala desa dengan benar,” kata bapak Ratri, si kepala desa. Ratri berteriak-teriak keenakan sambil menyebut sesuatu yang terdengar seperti
“ndoro bayang ireng”. “Kangmas tak mempedulikanku lagi, hanya mendengarkan Bapak saja? Di dalam bayangan itu Sekar merasakan seluruh tubuhnya dibelai, disentuh, digerayangi, dirangsang dengan segala cara. Pedangnya kemilau ditimpa cahaya matahari sore, tak kalah mautnya dengan tebing terjal tempat dia bertarung.















