Membuang napas. Lalu asyik membuka tabloid. Bokep china Kini pindah ke paha sebelah kanan.Ia tepat berada di tengah-tengah. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Hawin telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Hawin merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Hawin.Aku mengambil pakaianku. Dari perut turun ke paha. Dadaku mulai berdegup lagi. Aku menggelepar.“Sst..! Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Hap. Lalu dikocok-kocok sebentar. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Ah segar. Betul-betul keras. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Hawin.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Wajahku mulai panas. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Ia tersenyum ramah. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan.















