Kulihat Bu Eni tersenyum dan berkata lirih, “Oh.. Bokepindonesia “Oke-oke..,” kataku singkat sambil berdiri, menghabiskan sisa es teh terakhir, kubuang rokok yang tersisa sedikit, kuambil permen dalam saku, kutarik dalam-dalam nafasku. Yogi.. Aku telah bermain cinta dengan dosen killer itu. Tetapi bedanya kali ini aku tidak canggung lagi melayani Bu Eni dalam bercinta. Kelihatan sekali keadaan yang sepi. Akhirnya aku berkata, “Baiklah Di, akan kucoba, besok aku akan menghadap beliau di kampus.”
“Nah begitu dong, segala sesuatu harus dicoba dulu,” sahut Andi sambil menepuk-nepuk pundakku.Siang itu aku sudah duduk di kantin kampus dengan segelas es teh di depanku dan sebatang rokok yang menyala di tanganku. Tetapi bedanya kali ini aku tidak canggung lagi melayani Bu Eni dalam bercinta. Sebelum bertemu Ibu Eni aku sengaja bersantai dulu, karena bagaimanapun nanti aku akan gugup menghadapinya, aku akan menenangkan diri dulu beberapa saat. Hanya karena masalah ini aku harus bersusah-susah menemui Bu Eni, untuk dapat membantuku dalam masalah ini.Kulihat pintu di ujung lorong.















