Bergegas aku membereskan segala yang berantakan, sekedarnya. Bokep barat Kami berpagutan dan saling melumat. Entahlah atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca majalah sambil telungkup dipermadani. Sungguh aku tidak tahan, dengan sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan merintih lalu mengerang perlahan seiring cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal guling. “Tedy mau minta apa sama kaka?”, nampaknya kak Dewi mencoba bernegosiasi, he he…. Tiba dirumah, tatapan kak Dewi menyambutku. “Kak Sinta… !”, kataku. Ia membuang muka ketika berpapasan dengan aku yang bermaksud ke kamar mandi. Aku tak tahan melihat kak Dewi diperlakukan seperti itu. “Pulang…nanti kalo mamah nanya gimana ?”, suara kak Dewi masih terdengar datar. Kukunci pintu kamar, mematikan lampu, dengan perasaan campur aduk. Entahlah atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca majalah sambil telungkup dipermadani. Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Aku semakin berani karena kak Dewi tak menolak remasan tanganku dipinggangnya. Maksud Tedy… mmm jangan marah yah. Ia beringsut keatas spring bad, lalu kubaringkan tubuhnya hingga terlentang. “ssshhhh… kaka…mkasihhhh…. Tapi setidaknya hal itu membuatku sedikit lega. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang.















