Dia membetulkan selimutnya sambil menatapku dalam-dalam, aku tak berani menatapnya, aku hanya bisa tertunduk malu.“Bunga sekarang jam berapa?” katanya kepadaku.“Jam sembilan Mbak,” jawabku takut-takut, sambil terus menunduk.“Ya ampun.. temenin Mbak makan yuk!” kata dia.Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk pelan. Bokep terbaru Lalu dia menggandeng tanganku keluar kamar, dia menggenggam tanganku dengan erat, entah apa yang dipikirkannya.Kami pun akhirnya makan di sebuah rumah makan dekat hotel yang kebetulan buka sampai malam. apa salahku..” kataku sembari berusaha menghapus air mataku yang bertambah deras.“Kamu.. Mbak Lina sudah tampak pasrah sekali dan dia tidak bisa melakukan perlawanan sama sekali, dan kupikir ini merupakan suatu kesempatan bagiku.Kuikatkan kedua tangannya ke ranjang dengan scarf miliknya, dan dia masih tidak melawan, aku tidak habis pikir, pasti dia menikmatinya, gumamku dalam hati. udah mau keluar nih.”“Bunggaa.. mau mandi, kan udah sore.”“Kamu ini gimana, mandi di sini kan bisa, habis mandi nanti kita keluar.. Dia duduk di atas tubuhku. temenin Mbak makan yuk!” kata dia.Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk pelan. please.. “Bunga.. terus.. kenapa kamu menangis?” tanya dia sambil menghapus air mataku.“Mbak..















