komedi gelap Ozahwa Pamer Nenennya: satire, ambiguitas, dan plot kacau. Plus: skrip tajam. Bokep mom Minus: humor niche. Untuk selera khusus. Mulai.
”Masuk, Cah Sara” kataku dgn suara berwibawa. Aku kira umurnya paling banter baru 17 atau 18 tahun.“Sugeng dalu (selamat malam) Kakek..” katanya agak bergetar. Pinggangnya bagus, meskipun agak sedikit gemuk di perut. Waa..nafsuku semakin meningkat tajam. Kini dia terbaring mengangkang, kemaluannya terbuka lebar seakan siap menerima segala kenikmatan duniawi. Namun yg ini, sungguh lezat, legit dan super sempit. Pikirku. Bau khas kemaluan perempuan menyebar dan tercium hidungku. Buah dadanya putih sekali, menggelembung di belakang bra yg tampak agak kekecilan itu.(baru 14 tahun kok sudah besar banget ya? Pertama kukecup buah dada kirinya, merasakan kelembutan kulitnya yg sangat halus. Aku harus akui kalau badanku cukup atletis (wajahku juga tidak jelek-jelek amat lho, terutama kalau janggut professionalku ini dicukur). Aku dapat menolongmu, namun itu sangat berbahaya. Wah, aku hampir terlonjak kaget. Aku sekarang dapat melihat wajahnya dgn jelas. Rasanya aku mulai terangsang pada wanita ini.“Teruskan Cah Sara” kataku penuh wibawa: “kamu mimpi apa?”Juminten menggigil. katanya tersenyum.Juminten tentu saja semakin kesal: “bahagia bagaimana to Pak?” tanyanya:
“Wong sudah mbasahin baju tidak bilang-bilang, masih juga mbujuk-mbujuk segala.”pak Kartolo katanya hanya tersenyum senyum saja dan menjawab:
“wong bocah cilik, durung ngerti (belum mengerti) roso kepenake wong lanang (rasa enaknya laki-laki) Cah Sara, Cah Sara, nanti saja










