Tapi ia dingin sekali. Bokepindonesia Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Hawin..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. Begini saja daripada repot-repot. Tangannya halus. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Aku mengurungkan niatku. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Aku duduk di tepi dipan. Atau apalah? Keberuntungankah? Agar kejadian kemarin terulang.Jam berapa aku berangkat. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi.















