Aku makin bingung mau ngomong apa lagi. Bokep Tokyo Meski terkendala bahasa, tetapi dia bisa menahan kedua cewek itu cukup lama di restoran. Dalam perjalanan kami berdua kebelet pipis. Namun mereka lalu mendatangiku.“Mereka mau nunjuki tempat ambil taksi,” kata Bode.Aku hanya menyebut taxi mereka mengangguk, lalu menunjuk arah di seberang lapangan merah. Dia berhasil dengan sukses memasukkan kedua cewek itu ke kamar. Kami bertanya ke sana kemari, tidak ada yang bisa memberi tahu dimana pintu keluar. Dia sangat cooperative. Anehnya kedua cewek itu ngerti dan dia bangkit bersama Bode untuk naik ke kamar. Aku memang menghindar naik lift bersama mereka, takut kepergok sama temen-temen.Aku memang sekamar dengan Bode. Aku tidak berminat untuk mengikuti terus rombongan, karena perjalannnyanya bakal cukup jauh.Aku berdua dengan temanku yang biasa kupanggil Bode, karena bahasa daerahnya dia biasa dipanggil La Bode. Jadi dia cuma main sekali saja. Kami sempat foto-foto dulu di depan gambar Ketua Mao di pintu utama Kota terlarang.Beberapa kali kami melambai taksi, tapi tak satu pun mau berhenti. Berarti mereka paham dan mau diajak disco.Dengan bahasa isyarat Bode berhasil menyampaikan maksud bahwa disconya buka masih lama, jadi sementara itu menunggu di kamar dulu.















