Ia terus mengelap pahaku. Bokep indo Dadaku berguncang. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Hitam. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Aku memegang teteknya. Ke bawah lagi: Tidak. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Ia kerja di sana? Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Sebentar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.” Aku langsung beres-beres dan pulang.,,,,,,,,,,,,,, Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar.















