Emangnya apa bedanya?” tanyaku.Ia tersenyum saja. Saayaanghh.. Bokeb Ia membaringkan badannya. Kulihat Santi sedang berdiri dan mulai membuka kancing gaunnya. Jangan.. Sekilas kulihat tanggal lahirnya, berarti ia sekarang dua puluh delapan, sementara aku waktu itu masih dua puluh tiga. Dulu-dulu selalu tidak pernah kebagian kamar ini”. Ia tersenyum dan mengajakku membersihkan badan.Selesai membersihkan badan, kami masih sempat ngobrol-ngobrol sebentar hal-hal mengenai dirinya. Ia hanya menggerinjal dan berkata”Sabar dulu Mas, nanti saja”. Satu sore sepulang dari daerah Cideng, aku melewati wilayah Tanah Abang yang secara harfiah berarti tanah merah. Sungguh pandai ia memainkan mulut dan lidahnya di sekujur penisku. Cuaca semakin panas.“Panas, San. Setengah jam menunggu belum ada juga Metro Mini yang kami tunggu. Kususul ke rumahnya. Dan memang daerah ini dikenal sebagai daerah merah. Kulihat Santi sedang berdiri dan mulai membuka kancing gaunnya. “Sama aja. Aku berdiri dengan posisi menghadap ranjang dan Santi berbaring miring, dia dengan lahap menghisap kejantananku. Siang-siang kok sudah pulang?” tanyaku. Terus San. Baru aku ingat”, jawabnya, “Mau ke mana?” sambungnya. Cuaca semakin panas.“Panas, San.















