Perkenalan kami sangat singkat, namun dari tatapan mata masing-masing aku dan dia langsung menyelami arti sebuah keakraban. Dan itulah yang membuatku tertawa. Bokep India Aku sedikit terguncang. Chie, gadis penuh pesona.Januari 1999“Raaayy! Jay berpaling, menatap pandanganku. “Ray…”
“Hmm…”
“Kamu pikir akan ada yang mau menikahiku kelak?”
Ah, Chie. Di saat aku pun berjuang melawan desisan hawa nafsu yang bergejolak dalam diriku.“Ray…”
“Ada, pasti ada suatu saat nanti,” desahku. Aku memang malas kuliah, aku harus mengakuinya. Aku mulai berkeliling kota mengumpulkan foto copy makalah dan paper yang dibutuhkan. Aduh. “Aku hanya bertanya,” kata Chie. “Hanya maaf?” Jay tertawa. “Pulang dulu, ya?” ucapku, membuatnya menarik kepalanya dan meruncingkan bibirnya. Jay sekarang ada di sebelahku, dengan rokok Dji Sam Soe kretek di bibirnya. Yah, aku sudah merasa cukup senang dengan kehidupanku sekarang tanpa harus terbebani kuliah seperti orang-orang kebanyakan yang lebih memuja akademik daripada skill.“Halo?”
“Ray?”
“Oh, Chie. Berteriak-teriak protes di sisi kupingku, karena menurutnya, seandainya saja saat itu tidak ada rencana yang sudah terbentuk, ia pasti sudah melayangkan bogem mentahnya ke rahangku. Kusentuh tubuh indahnya, membantunya melepas baju dan branya. Jay bangkit berdiri dan menghampiriku. Karena Chie adalah seorang sahabat. “Chie?” tanyaku. Aku tak ingin mendengarnya. Ah, Jay. Egois.”
Tuduhan itu membuatku terdiam. “Tentu, seandainya Enni sudah menikah dengan orang















