Kami saling menatap. Hadiah yang dapat menyejukkan kerongkonganku yang kering. Bokep Rusia Di situlah keberuntunganku. Terasa sangat berat menjawab pertanyaan sederhana itu. Mbak Lia menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja. Ia tersenyum menatap hidungku yang telah licin dan basah.“Enak ‘kan?” sambungnya sambil membelai ujung hidungku.“Segar!” Mbak Lia tertawa kecil.“Kau pandai memanjakanku, Jhony. Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku berpindah ke betisnya. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Akibat kecupanku, Mbak Lia menurunkan paha kanan dari paha kirinya. Tak peduli dengan segala kegilaan yang sedang terjadi. Mbak Lia terpekik. Tunjukkan dengan rakus seolah ini adalah kesempatan pertama dan yang terakhir bagimu!”Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Aku selalu duduk persis di depannya. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Tak peduli dengan segala kegilaan yang sedang terjadi. Dan..,” setelah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.“Saya juga sering menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu.”“Persis seperti yang kuduga, kau pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Tia sambil sedikit mendorong kursi rodanya.“Agar kau tidak penasaran menduga-duga, bagaimana kalau kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”“Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yang kaku itu.“Kompensasinya apa?”“Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”“Bagus,















