Saat hendak memasuki jalan utama, sebuah dompet di pinggir jalan mencuri perhatianku. Kali ini aku sedikit ragu untuk mengganti celanaku di hadapannya. Bokeb Hujan sedikit lebih deras dari sebelumnya saat aku sedang mengisi bensin, tapi itu tidak menghentikan langkahku untuk bisa sesegera mungkin sampai rumah. Itu rumahnya yang itu tuh. Usianya ternyata lebih muda 2 tahun dariku, dan alamatnya tidak jauh dari tempat ku berada. “Gak takut emang tinggal di rumah segede gini sendirian?” Tanyaku untuk mengalihkan fokus agar tidak memikirkan yang aneh-aneh.“Ya takut sih, tapi mau gimana? Lampu kuning yang temaram, menambah kenyamanan kamar tersebut.“Nih, tidur disini aja mas…” Ujar Sinta.Aku pun mengangguk, lalu meletakan tas ku di samping kasur tersebut. Ada perlu apa, Mas?”“Oh mbak yang namanya Sinta? Memang hari ini hari Jumat dan besok aku tidak perlu bangun pagi untuk ke kantor, tapi cuaca dan pekerjaan yang melelahkan hari ini membuatku ingin bergegas menyelimuti diri dan tidur sampai siang hari esok. Uangnya masih ada semua…” Jawabnya sambil menutup dompet.“Mas, masuk dulu yuk. “Sepi sekali rumahnya, sudah pada tidur ya?” Tanyaku untuk memecah kekakuan. Ia hanya tertawa.Aku pun nekat, dengan pasti ku buka kancing celana dan reseletingnya.










