Memang rasanya kepalaku sudah mulai tidak sakit lagi. Tapi, “Plak!” Ia menampar pipiku dengan keras, membuat mataku berkunang-kunang. Bokep Viral Rio mematuhi perintah ayahnya. Ia menciumi belahan buah dadaku yang laksana lembah di antara dua buah gunung yang menjulang tinggi. Itu kan sudah terjadi”, kata ayah tiriku menenangkan aku yang terus menangis dalam dekapannya.“Tapi, Pa. Ah! Semacam aliran aneh menjalari sekujur tubuhku. Kuakui, wajahku terbilang cantik, mata indah, hidung bangir, serta dada yang membusung walau tidak terlalu besar ukurannya. Itu kan sudah terjadi”, kata ayah tiriku menenangkan aku yang terus menangis dalam dekapannya.“Tapi, Pa. Tampaklah pahaku yang putih dan mulus itu. Tadi di kantor seharian aku sibuk melayani nasabah-nasabah bank tempatku bekerja yang menarik uang secara besar-besaran. Enak kan?”Aku mengangguk. Dia mulai meremas-remas kedua belah gumpalan pantatku yang memang montok itu.“Ouh… Ouuh… Jangan, Don! Kemudian dengan sekali sentakan kasar, ia menarik lepas tali BH-ku, sehingga tubuh bagian atasku terbuka lebar, siap untuk dijelajahi.















