Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Bokep Arab Sudahlah. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Ayo..!Aku masih diam saja. Dadaku mulai berdegup lagi. Hah..? Aku masih mematung. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Ciut. Seakan sengaja memainkan Si Junior. Ia kerja di sana? Sekarang sudah lebih lancar. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya.















