“Emang boleh?” tanya saya. Bokeb “Hey, cool dong!” hiburnya, “Kita bisa ketemu lagi kapan-kapan kalau kamu mau. Ohh, benar-benar mabuk kepayang. Usai melihat-lihat patung lilin di museum itu, tante dan om saya naik kereta kembali ke hotel mereka, sementara saya masih berjalan-jalan di Bakerstreet (tempat museum tadi berada), karena banyak teman asal Indoneisa yang menginap di apartemen-apartemen sekitar situ. Ivon sekarang sudah dewasa! Hal itu membuat Jenny makin bersemangat. Di hadapannya, tampak dua orang pria bertubuh tinggi besar. “Tapi aku juga ngerti, kamu nggak mungkin bisa hidup bareng aku.” lanjutnya lagi. Lalu saya merasa lemas sekali. Seorang wanita berkebangsaan Asia yang kurus tinggi berpakaian mahal. “Kamu juga, Jen.” saya sudah mulai berani menjawab. Lidahnya yang hangat berputar-putar di pangkal susu saya, membuat saya kegelian. Saya melihat ke arah matanya, dan sepasang mata itu tidak lagi setajam tadi. Pelan-pelan matanya meredup, lalu setengah memejam. Sepasang mata paling mengerikan dan paling tajam yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya. Hal itu membuat Jenny makin bersemangat.















