Langkahku semangat lagi. Satu dua, satu dua. Bokep Brazzer Duduk di tepi dipan. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aq turun. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Iin lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Iin kembali ke tempatku. Sial. Bayar arisan. Suara itu lagi. Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Ia tdk lagi dingin dan ketus. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Garis setrikaannya masih terlihat. Dadaku berguncang. Auhh aq mau keluar ah.., Yg tolloong..!” dia mendesah keras.Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.“Yg.., cepat-cepat berkemas. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Dadaku berguncang. Tetapi, aq harus berani. Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Aq lupa kelamaan menghitung kancing. Tetapi, aq harus berani. Kaki disandarkan di dinding. Aq makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aq membalikkan badanku. Bodoh amat. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku.















