Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aq. Bokep Nampak ada perubahan besar pada Iin. Aq tdk berani menatap wajahnya. Masih melongo.“Tolong itu jendelanya direptin sedikit…” katanya lagi.“Ini…? Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Penis. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Iin.Setelah beberapa lama menyodoknya,“Terus dong Yg. “Ya.”Lalu aq menuju ruang yg kemarin. Nafasnya tersengal. Dadaku mulai berdegup lagi. Tunggu apa lagi. Ketika Si Penis melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Lalu ia memijat lutut. Ia memulai pijitan. Kring..! Aq tdk berpakaian kini. Dari perut turun ke paha. Ada sekat-sekat, tdk tertutup sepenuhnya. Jakarta yang panas membuatku kegerahan di dalam angkot. Nafasnya tersengal. Kalau kini aq berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yg membasahi leher, pasti karena aq terlalu terbuai lamunan. Aq perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan.










