“Sial lu, Jay.”
Jay tertawa, mengambil tempat di kursi di depanku, menatapku lekat dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Bokep terbaru Dan karena itu pulalah aku tidak menghajarnya, walaupun itu adalah tujuanku sejak semula. Chie, sederhana di balik gemerlap kehidupannya. Inilah kita.”
Aku tak mau menoleh. “Aku merindukan saat-saat ini.”
Kulihat Jay tersenyum dan memejamkan matanya. Sempit, hangat. Jay menolehkan kepalanya ke arah mobil. “Kamu lebih serius, kan?” Jay menatap lekat pandangan mataku. Jay memandang mataku, dan melengos ke arah lain. Kuparkir mobilku di depan pekarangan rumahnya. Namun aku tak tahu harus tertawa ataukah menangis mendengar sindiran itu. “Ray, masih ingat kamu pernah berkata bahwa kamu hanya mau berhubungan seksual dengan gadis yang bukan perawan,” Chie tertawa kecil. Kutunggu saat-saat kepalannya menghajarku. Chie tak pernah masuk ke alam daftar gadis-gadisku. Aku tertawa kecil. Ucapan itu sangat pahit dan mengena. Saat itu aku sedang melakukan pendekatan dengan Chie. Wajahnya melukiskan kebahagiaan dan ketenangan. Jadi kami memutuskan untuk fair-play. “Hallo?”
Hening sesaat merasuki suasana. Demi Tuhan. “Nih, rokok.”
Chie menyambar bungkus Marlboro di tanganku dan membuangnya ke sudut ruangan.















