Entah mengapa panggilan “mas” itu membuatnya terangsang. Kondom! Bokep Hijab Payudaranya berayun-ayun mengikuti gerakan tubuhnya. eh, Wawan..!” jawab Windu. Windu cuma ingin keluar secepatnya dari tempat itu. “Baru pertama kali yah, Oom..! Nafasnya mendesah. Tak dihiraukan panggilan teman-temannya yang sedang nongkrong di warung indomie depan kos-kosannya. Tapi kena bayar ekstra lho…” tiba-tiba tangan mungil itu sudah menelusup di antara selangkangan Windu dan menyambar batang kemaluan Windu yang sudah sangat menegang. Rasa simpatinya mulai muncul melihat Windu yang serba kikuk. “Mmhhh… ahhhhh!! Tidak didengarnya ketukan di pintu yang berulang-ulang memanggil namanya dengan nada penuh kekhawatiran. Dewi, si resepsionis membuka salah satu pintu, menyalakan lampu dan AC yang bunyinya sudah seperti mesin diesel. “Ditemenin yuk..!” sosok tinggi bak peragawati itu mengedipkan mata. Kalau tidak puas, jangan kesini lagi deh pak!” si resepsionis tersenyum sambil menuruni tangga. “Heiii… cakep… ayooo dooong… Suka nyepong kan?”
Windu mempercepat langkahnya sambil terus memaki dalam hati. Akhirnya saat itu tiba juga. Lampu-lampu jalanan sepanjang Bypass mulai menyala seolah menyoroti dirinya. Tenang mas, pelan-pelan saja… Jangan gugup gitu ahh..” masih teringat kata-kata wanita di panti pijat tadi, dengan senyum yang menggoda tapi ditafsirkannya sebagai sindiran.“Hei, cowok…!” Windu terkejut mencari sumber suara yang terdengar aneh itu.















